Bencana itu Cerminan Suatu Bangsa

Sebuah renungan.
Bencana banjir melanda ibu kota Indonesia. Jakarta tergenang banjir. Tidak seperti banjir sebelumnya, banjir di awal tahun 2013 ini merupakan banjir yang terbesar di Ibu Kota Indonesia itu. Pemimpin Jakarta Jokowi langsung dihadapkan pada kondisi yang sangat parah yang baru dua bulan kepemimpinannya. Andaikan masyarakat Jakarta dan sekitarnya menyadari dari sebelum banjir ini akan datang, Insyaallah bencana ini tidak akan terjadi. Semua itu adalah kembali kepada diri kita masing-masing. Kesadaran kita terhadap lingkungan yaitu menjaganya dan merawatnya, maka lingkunganpun akan menjaga keamana kita.
Dalam suatu khotbah jumat disampaikan 90 % warga Ibu Kota melakukan maksiat, lalu Allah SWT menurunkan azabNya. Maka dari itu, sudah saatnya kita mendekatkan diri kepada sang pencipta, memohon ampunan atas segala dosa-dosa kita, dengan taubat yang sungguh-sungguh taubat, taubatan nasuha. Kunci agar kita terhindar dari bencana adalah dengan taubat dan bersama-sama berdoa agar hujan yang diturunkan oleh Allah adalah hujan yang membawa berkah. Dalam khotbah Jumat itu digambarkan sebuah peristiwa ketika Nabi Yunus AS ditelan oleh seekor ikan selama tiga hari dann Nabi Yunus AS menangis kepada Allah seraya melantunkan doa “Lailaha ila anta subhanaka ini kuntu minadzolimiin” dan Subhanallah, Nabi Yunus dapat terselamatkan dan keluar dari dalam perut ikan dengan selamat. Dari peristiwa itu dapat kita ambil hikmah bahwa, ketika menghadapi bencana marilah kita seraya berdoa bersama-sama, berdoa dengan sungguh-sungguh dan bertaubatlah dengan taubatan nasuha. Insyaallah dengan izin Allah SWT kita akan diselamatkan dari bencana yang sewaktu-waktu datang tanpa kita ketahui. Lewat tulisan yang singkat ini, marilah kita semua bertaubat dan memohon doa kepada Allah SWT agar bencana banjir di Ibu Kota tercinta ini dapat segera surut dan semuanya selamat. Amin ya Robbal Alamin.

Advertisements